ISU PEMAKZULAN MASIH SANTER

ISU PEMAKZULAN MASIH SANTER

Oleh: Rino Desanto W.
Isu pemakzulan di negeri api hingga hari ini masih menghias halaman media. Beberapa sahabat mengatakan isu pemakzulan sebetulnya tidak harus ada. Sekalipun tidak dimakzulkan, sasaran pemakzulan tidak juga bisa berbuat banyak. Tidak puas dengan pendapat sahabat baru, kami mencoba menemui sahabat lama, beliau saat ini dikenal sebagai pengamat pemakzulan. Kami menanyakan apa esensi dari rencana pemakzulan tersebut. Jawabnya, tentu dilandasi adanya keinginan untuk memperbaiki negeri ke depan. Pemakzulan tidak serta merta terjadi secara kebetulan. Masalahnya, apakah tidak ada jalan lain, selain dengan cara memakzulkan.
Mungkinkah sasaran pemakzulan dibiarkan tetap ada, tetapi tanpa peran berarti. Bukankah pengalaman di negeri api selama ini menunjukkan, bahwa orang nomor dua tidak besar pengaruhnya dalam pengambilan keputusan atau pembuatan kebijakan. Bahwa orang nomor dua tetap nomor dua. Mengapa tidak dikuatkan saja sebagai orang nomor dua dengan porsinya yang kecil, dan dijaga agar porsinya tidak membesar hingga bisa berbuat banyak. Selama ini pengambilan keputusan selalu berada di tangan nomor satu, sedangkan wilayah pemotongan pita diserahkan pada orang nomor dua. Walau dengan porsi kecil orang nomor dua tetap dielu-elukan, terutama jika blusukan ke daerah-daerah.
Warga negeri api tetap memandang mata terhadap orang nomor dua walau datang sekadar memotong pita. Bila kondisinya memang seperti itu apakah masih perlu dimakzulkan. Perlu atau tidak, itu bergantung dari sudut mana memandang. Setelah kami bincang lebih dari satu jam, muncul pertanyaan apakah pemakzulan itu mungkin. Sahabat kami menjawab, itu mungkin saja. Pemakzulan atau kata lainnya penggulingan, tidak jauh dari filosofi guling. Guling itu mudah dibuat, guling itu juga tidak sulit untuk digulingkan setelah tidak diperlukan.
Kami mulai berpikir apakah memang orang nomor dua diadakan untuk dicampakkan. Ibarat guling sebagai teman tidur, setelah bangun tidur disingkirkan begitu saja. Apakah memang sedemikian mudah untuk menggulingkan. Sahabat lama kami mengatakan, itu hanya soal waktu. Mereka yang mengusulkan penggulingan tentu sudah mengukur tingkat ketercapaiannya. Sahabat lama kami menambahkan, inilah konsekuensi memetik mangga terlalu muda. Setelah dicicipi ternyata rasanya asem, barulah berpikir untuk mencari mangga yang lebih tua.
Dulu yang penting ada dulu, ibarat jualan rujak buah, kalau tidak ada mangganya tidak menarik pembeli. Sekarang situasinya berbeda, ada cukup waktu untuk mencari mangga yang lebih tua agar rujak terasa lebih nikmat. Kami jadi berpikir, berarti dulu memang sengaja dipaksakan, istilahnya dituwekne umure (dituakan usianya). Dituwekne di sini bukan dengan cara mengganti data di jawatan kependudukan, tetapi dengan merubah aturan yang ada. Sehingga yang terlalu muda bisa terjaring. Mengakali aturan hanya untuk mengatrol usia muda, sungguh luar biasa.
Bukan hanya soal muda usia, tetapi banyak juga terlalu muda untuk sisi lainnya. Terlalu muda dalam pengalaman hidup, dan pengalaman berpolitik. Terlalu muda dalam cara pandang, terlalu muda dalam kewibawaan, dan masih banyak lagi terutama dalam menghadapi tekanan. Kini nasi telah jadi bubur, apakah akan diganti dengan nasi. Penggulingan telah dimulai, beberapa warga sudah gatal ingin segera menggantikan bubur dengan nasi hangat. Alasannya negeri butuh sosok cerdas dan berwibawa. Negeri butuh sosok orang nomor dua, lebih dari sekadar urusan makanan bergizi. Negeri butuh sosok dengan ide-ide berlian untuk wajah negeri ke depan.
Jika demikian siapa kira-kira siapa yang patut menjadi sosok pengganti setelah pemakzulan benar-benar terjadi. Ini yang tampaknya masih dalam penggodokan. Butuh waktu bagi tokoh-tokoh negeri, politisi, akademisi, dan tokoh agama duduk bersama mencari solusi yang terbaik untuk negeri. Butuh waktu untuk mengiyakan, mengangguk dan saling memberikan kedipan penuh arti. Kembali sahabat lama mengutarakan bahwa penggulingan akan sangat mungkin bila mau memutar waktu, saat wilayah aturan telah dengan sengaja diacak-acak untuk memberikan jalan bagi usia muda.
Bila nantinya terbukti bahwa dalam proses perubahan aturan tersebut adalah sebuah titipan, maka perubahan aturan bisa dianggap gugur dan dikembalikan sebagaimana posisi sebelumnya. Tampaknya ini akan menjadi jalan masuk paling rasional untuk awal penggulingan. Sempat ada yang berbisik pada kami, kayaknya ini sudah direncanakan sejak awal. Calon orang nomor dua saat itu dianggap sebagai sosok yang bisa memuluskan jalan. Karena itu tak ada salahnya didorong menjadi orang nomor. Semua bahan sudah sudah ada tinggal proses masak digelar. Terkait perubahan aturan dan kelanjutannya anggap saja itu sebagai bumbu-bumbunya
Terlepas dari elok dan tidak elok, proses penggulingan telah berjalan dan sepertinya tidak akan mungkin dihentikan. Mengingat usul penggulingan datang dari orang-orang berkelas. Tentu sudah diperhitungkan dengan matang manfaat dan risikonya. Bagi kami warga negeri api hanya berharap ke depan ada perbaikan kualitas dalam tubuh negeri api, ada perbaikan kualitas peran negeri api baik ke dalam maupun keluar. Warga tidak butuh siapa yang mengendalikan, warga hanya ingin negara memberikan ruang yang sama untuk peningkatan diri untuk semua lapisan.

mediamataraman Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *