Relawan Rilis: Setia dalam Perjuangan, Terluka oleh Kekuasaan
Relawan Rilis: Setia dalam Perjuangan, Terluka oleh Kekuasaan
Mari kita bicara jujur.
Kemenangan politik di Ponorogo bukan lahir dari ruang rapat ber-AC atau strategi elite semata. Ia lahir dari keringat relawan. Dari langkah kaki yang tak pernah lelah. Dari orang-orang yang bekerja tanpa bayaran, tanpa jabatan, tanpa jaminan apa pun.
Relawan Rilis adalah bagian dari itu.
Di tengah riuh dinamika politik lokal Kabupaten Ponorogo periode 2020–2025, Relawan Rilis menjelma menjadi fondasi sunyi dari sebuah kemenangan. Mereka bukan sekadar pendukung, melainkan pejuang yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan perasaan, demi mengantarkan pasangan bupati dan wakil bupati menuju tampuk kekuasaan.
Tanpa pamrih. Tanpa syarat. Tanpa tuntutan.
Mereka hadir bukan saat sorotan kamera menyala, melainkan ketika kerja-kerja sunyi harus diselesaikan. Mereka bertahan ketika badai datang—saat sebagian kawan seperjuangan memilih hengkang, menyeberang, bahkan ikut menebar opini yang melemahkan. Dalam kondisi itu, Relawan Rilis tidak goyah. Mereka tetap berdiri, setia mengawal hingga garis akhir.

Pimpinan redaksi Media Mataraman dan kepala Bapan( Badan advokasi penyelamat aset negara )
Dan sejarah mencatat: kemenangan kembali diraih.
Namun kemenangan itu kini menyisakan ironi.
Pasca peralihan kepemimpinan ketika bupati nonaktif, dan digantikan tugasnya oleh PLT mereka yang setia justru seperti kehilangan tempat. Relawan yang dulu berada di barisan terdepan, kini seakan terdorong ke pinggiran. Bukan soal jabatan. Bukan soal materi. Yang mereka harapkan sederhana: pengakuan, penghormatan, dan perlakuan yang adil sebagai manusia yang pernah berkontribusi.
Di saat yang sama, mereka yang pernah pergi, bahkan yang dahulu melawan, justru dirangkul, diberi ruang, bahkan posisi strategis.
Di titik inilah luka itu muncul.
Ini bukan sekadar soal politik. Ini soal rasa keadilan.
Apakah kesetiaan tak lagi bernilai?
Apakah perjuangan tanpa pamrih kini dianggap usang?
Jika pola ini terus dibiarkan, maka yang terbangun bukanlah kekuatan politik yang sehat, melainkan preseden buruk bahwa loyalitas tidak lagi relevan, dan pengkhianatan bisa dinegosiasikan.
Relawan Rilis hari ini mungkin tampak diam. Namun mereka ibarat api dalam sekam. Tenang di permukaan, menyala di dalam. Bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk mengingatkan: bahwa setiap perjuangan, sekecil apa pun, layak dihargai.
Sebab pada akhirnya, politik bukan hanya soal kekuasaan. Ia adalah tentang manusia tentang bagaimana menghargai mereka yang telah berjalan bersama sejak awal.
Relawan Rilis tidak meminta lebih. Mereka hanya ingin diakui sebagai bagian dari sejarah.