WAYANG-WAYANG KECIL TERTANGKAP DALANG BESAR TIDAK TERUNGKAP

0
wayang

Oleh: Rino Desanto W.

Dalang dikagumi banyak orang oleh karena kelebihannya mementaskan wayang. Dalang mudah dikenali penonton dari caranya memimpin jalannya pementasan, mulai dari memberi aba-aba pada pengrawit, caranya menyampaikan cerita, sampai ketramppilannya mengubah suara sesuai karakter wayang. Itu semua ciri-ciri dalang dalam dunia pewayangan. Di negeri api selain ada dalang nyata juga dikenal adanya dalang hantu atau dalang besar, kadang disebut juga sebagai dalang plesetan. Di dunia pewayangan, dalang nyata mudah dikenali warga setempat.

Sedangkan dalang hantu atau dalang besar hampir-hampir tidak pernah terungkap identitasnya. Banyak kasus di negeri api yang sulit diselesaikan dengan tuntas. Banyak kasus yang tidak terungkap ujung akarnya. Walau sudah banyak yang mencoba menyelidiki akar kekacauan, semuanya belum sampai menyentuh dalang besar. Wayang-wayang kecil yang turut berperan dalam kekacauan sebagian sudah ditangkap dan dijebloskan di balik jeruji. Sebagian lagi tersangkut perkara buatan atau yang dikenal perkara abal-abal.

Perkara abal-abal mulanya tidak ada dan jika ditanyakan ke hati nurani mestinya tidak perlu ada, tetapi benar-benar diadakan untuk menimbulkan kekacauan. Kekacauan ini meluas dari personal ke kelompok, dari daerah ke metropolitan. Kekacauan dibesarkan untuk menguatkan posisi tawar, untuk mengaburkan kasus yang sebenarnya atau menutupi sementara waktu kasus besar yang sesungguhnya. Dari sini tergambar betapa saktinya dalang besar. Dengan sumber daya yang dimiliki, dalang besar dengan mudah menggelapkan kasus.

Di permukaan yang tampak hanyalah kekacauan yang memang sudah diseting untuk mengalihkan perhatian. Dalang besar atau dalang hantu berdiri di balik layar serba abu-abu. Dalang hantu muncul samar-samar, keluar dengan penyamaran. Sebagian besar warga tidak tahu bahwa tokoh besar yang di matanya tanpa cacat itu sebenarnya dalang besar. Selama ini dalang besar selalu didampingi tokoh kunci. Tokoh kunci yang direkrut adalah orang jenius, bertugas membuat skenario cantik, membuat plan A plan B, dengan bumbu-bumbu yang membuat warga terlena.

Rino Desanto W.

Penulis skenario diandalkan untuk menulis cerita yang dapat membodohi warga. Dengan kehadiran penulis cerita jenius, hampir dapat dipastikan sosok dalang besar tidak akan terungkap dalam beberapa dekade. Hingga saat ini racikan cerita hanya dibatasi sampai membangun kekacauan. Kekacauan dibuat dalam batas wayang-wayang kecil. Wayang-wayang kecil dianggap layak dikorbankan. Sementara wayang kakap dan wayang hiu diposisikan sebagai lapisan kedua, belum tersentuh. Dalang besar kian jauh dari kata terungkap.

Sedemikian halusnya skenario yang dibuat, tidak memungkinkan dalang besar digores perkara hukum. Namun, sesungguhnya warga kecil tidak semuanya buta. Sebagian warga sudah paham batapa di balik semua kekacaun pasti ada dalang besar yang bersembunyi seperti hantu. Kekacauan demi kekacauan muncul silih berganti. Tidak ada kekacauan yang berdiri sendiri. Kekacauan satu dengan kekacauan lain saling berkaitan, bakhan saling menguatkan. Kekacauan dihembuskan dengan modus, kekacauan berikutnya dimunculkan untuk mengaburkan kekacauan sebelumnya.

Begitu seterusnya hingga tidak mengeherankan jika dari hari ke hari kekacauan terus bertambah kuantitasnya. Bisa jadi kasus yang disembunyikan hanya satu butir, tetapi kekacauan yang ditulis bisa demkian panjang. Sudah barang tentu kekacauan panjang akan sangat melelahkan dan menyedot sumber daya yang tidak seidkit. Tidak mengherankan jika negeri api dikenal sebagai negeri yang kurang produktif. Dari tahun ke tahun berkutat pada satu kasus dan tidak tampak solusinya. Salah satunya contohnya adalah kasus keabsahan selembar kertas.
Kasus selembar kertas hingga kini belum terbuka gamblang. Siapa penulis skenarionya juga belum ketahuan. Di permukaan muncul kekacauan yang berbau hukum dan perkara hukum buatan. Seolah membicarakan selembar kertas yang sudah dinyatakan sebagai barang publik adalah dosa besar. Membuktikan keabsahan selembar kertas dianggap penghinaan datau pencemaran nama baik. Tak berlebihan jika negeri api boleh diberi gelar negeri terbalik. Semua tampak terbalik, yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan.
Kekacauan demi kekacauan berlangsung tanpa bisa mengungkap kebenaran. Kekacauan diluncurkan untuk menghapus jejak. Di luar kasus selembar kertas, kini muncul lagi kekacauan akibat temuan emas dengan berat di atas 70 kg, temuan duit milyaran di balik dinding rumah. Belum lagi kekacauan dari adanya kongkalikong penegak hukum dengan orang-orang yang bermasalah hukum. Di satu sisi ada penjual jasa penghalus kasus, ada penjual jasa perusak kasus, dan ada penjual jasa penghapus kasus. Di sisi lain ada pihak yang berani membeli jasa dengan harga mahal.

Kekacauan ini menumbuhkan profesi-profesi baru. Sebuah kasus dengan segala dampaknya dapat menghidupi banyak orang. Bahkan mereka yang terlibat dalam kekacauan bisa hidup lebih mewah. Suatu hari kami pernah ditonjok pertanyaan dari kawan negeri seberang. Mengapa kekacauan di negeri api tidak pernah berhenti. Kami menjawabnya dengan memberikan contoh program makan siang. Jika ditilik dari latar belakang munculnya program makan siang, itu bagus sekali. Namun, ada kesan program tersebut dipaksakan.

Ada pengalihan anggaran dari program lama yang sudah berjalan dengan ke program baru. Walhasil pelaksana program lama mempertanyakan anggaran yang dialihkkan. Apa pun latar belakangnya, program yang dipaksakan akan menumbuhkan kekacauan. Begitu juga agenda politik yang dipaksakan, bisa mengakibatkan kekacauan. Seringkali demi meloloskan agenda lima tahunan, beberapa rambu dilanggar. Akibatnya kekacauan membesar. Semua kekacauan bermula dari pemaksaan, dimulai dari pemaksaan ambisi sampai pemaksakan program atau agenda tersembunyi.

Anehnya siapa yang memaksakan ambisi besar hingga kini tidak pernah terungkap. Dalang besar yang sesungguhnya masih tampil bak pahlawan. Masih bersafari politik dari kota ke kota, dari pulau ke pulau. Di daerah pinggiran mereka masih dielu-elukan disambut meriah seperti raja. Dalang besar yang sesungguhnya masih tetap dianggap sebagai tokoh besar tanpa cacat. Hanya orang yang tertentu yang tahu betapa orang besar itu adalah dalang dari kekacauan besar. Namun, ternyata di antara kasus-kasus besar, ada beberapa kasus yang bisa dikategorikan sebagai kasus kecil.

Kasus kecil berdampak kekacauan kecil atau sifaatnya lokal. Kasus kecil lebih mudah terungkap, oleh karena dalang di belakangnya hanyalah tokoh kecil. Biasanya hanya berkisar kasus tambal sulam jalan berlubang, rehap gedung, jual beli jabatan, pemalakan dengan bedak CSR, rekening bayangan sang nyai dan sebagainya. Kasus kecil berimbas kekacauan kecil, kasus besar berdampak kekacauan besar. Dalang kecil mudah ditemukan, sedangkan dalang besar tak mudah terungkap dan masih bisa bermewah-mewah di belakang layar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *