CERITA PISAU HUKUM ALA PISAU DAPUR

0
CERITA PISAU HUKUM ALA PISAU DAPUR

Oleh: Rino Desanto W.

Hampir di semua sudut negeri, warga kecil bertanya-tanya mengapa pisau hukum tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas. Hingga hari ini belum ada jawaban yang bisa diterima. Warga merasa dalam setiap kasus besar dijadikan kambing hitam. Warga kecil merasa dijadikan kelinci mainan dalam setiap kasus proyek besar. Warga kecil bisa merasakan betapa dalam banyak kasus selalu dikorbankan. Karena memang harus ada yang disampaikan ke publik, siapa pelakunya, siapa yang turut serta, berapa kerugian negeri, berapa yang harus dikembalikan ke negeri.
Walhasil, dibuat skenario indah seolah masuk akal sehat. Namun, tidak bisa dibantah bahwa warga negeri api sudah makin pintar. Warga tahu persis skenario apa yang sesungguhnya sedang dimainkan. Walau menurut rasio hukum bisa diterima, tetapi warga dengan jeli bisa membaca betapa permainan hukum baru saja dimulai. Semua ditata ulang mulai dari awal, semua diarahkan sesuai tata urutan kerja hukum, tetapi sesungguhnya yang sedang terjadi adalah pembohongan hukum. Oleh karena itu banyak warga yang akhirnya berteriak.

Ketika berteriak di ruang hukum tidak memperoleh tanggapan sesuai harapan, jadilah mereka berteriak di ruang publik. Masih bagus jika berteriak di ruang media, tidak banyak mengeluarkan banyak sumber daya. Namun, bila sampai berteriak di jalanan tentu sedikit banyak akan menurunkan wibawa negeri. Itu konsekuensi dari pembohongan hukum, kepercayaan warga kepada negeri bisa runtuh. Bahkan dalam beberapa kasus, warga sama sekali sudah tidak percaya dengan keberadaan hukum. Ini pertanda buruk, bagaimana mungkin suatu negeri berdiri tanpa ada kepercayaan hukum.


Negeri besar semestinya ditopang oleh sosok-sosok berjiwa besar. Negeri besar tidak cukup ditata hanya oleh satu sosok berjiwa besar. Negeri besar butuh banyak sosok-sosok berjiwa besar yang menopang banyak kota dan wilayah hingga pinggiran negeri. Masing-masing sosok berjiwa besar dibekali pisau hukum yang tajam di kedua matanya. Selama ini pisau hukum yang digunakan hanya tajam bagian depan, seperti pisau dapur yang bagian punggungnya tumpul. Walhasil, ketika diayunkan ke bawah, bagian tajam pisau mampu memotong dengan sekali tebasan.

Rino Desanto W.

Di lain kesempatan ketika diayunkan ke atas tak lebih seperti membenturkan punggung pisau tumpul ke tembok besar. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah negeri api mampu membuat pisau hukum yang tajam kedua matanya. Pande besi mana yang siap membuat pisau tajam kedua matanya. Bila semua sosok penopang negeri dibekali pisau yang tajam kedua matanya, tentu tatanan hukum negeri bisa menjadi lebih kuat. Negeri besar membutuhkan banyak pisau tajam untuk pegangan penopang negeri. Namun, entah kenapa hingga saat ini belum terdengar adanya permintaan pisau yang tajam bagian depan maupun belakang.

Dalam sebuah kisah di negeri api pernah ada satu sosok yang memesan pisau tajam kedua matanya kepada tukang pande terkenal yang bermukim di desa pandean. Saat itu tukang pande sudah menyetujui pesanan dalam jumlah besar. Namun, apa yang terjadi kemudian, tukang pande memperoleh teror dari orang-orang tidak dikenal. Demi melindungi keluarganya, tukang pande pun membatalkan pesanan. Beberapa warga kampung mengatakan bahwa si tukang pande akhirnya meninggalkan arena pande yang digeluti keluarganya secara turun terumun.
Dikabarkan tukang pande memperoleh suntikan dana dari sosok kaya tersembunyi. Si tukang pande beralih berprofesi sebagai penjual pisau dapur produksi negeri seberang. Pisau dagangannya memang terlihat cantik berkilau, tetapi sebagaimana pisau pada umumnya hanya tajam pada bagian depan, punggung pisau tetap tumpul. Entah kapan negeri api berniat membangkitkan lagi tukang-tukang pande yang tahan teror, yang tahan godaan dan iming-iming. Negeri api jelas membutuhkan banyak pande yang mumpuni dalam pembuatan pisau hukum yang tajam di kedua matanya.

Tidak sedikit tukang pande yang telah berpindah profesi, ini tantangan yang tidak ringan. Belum lagi banyak anak cucu tukang pande yang tidak tertarik untuk meneruskan profesi nenek moyangnya. Harus diakui bahwa profesi tukang pande kurang menarik dan kurang menjajikan. Apalagi di era sekarang banyak anak yang kurang berminat dengan keras. Untuk menjadi tukang pande dibutuhkan jiwa yang teguh, siap menjunjung moral, tidak mudah goyah oleh kilau kebendaan dan sebagainya. Intinya menjadi tukang pande adalah sosok pilihan.

Tukang pande bukan orang biasa, hasil kerjanya amat dibutuhkan oleh negeri. Profesi sebagai tukang pande bukan profesi kaleng-kaleng, keteguhan dan kesabaran tukang pande tidak diragukan. Setiap pukulan palunya adalah peran sertanya mengurai keruwetan negeri. Keruwetan akibat tumpulnya punggung pisau hukum saat ini. Sudah sepantasnya negeri memfasilitasi tukang pande dalam negeri untuk menghasilkan pisau hukum tajam bagian depan maupun belakang. Pisau yang siap digunakan untuk berperang melawan kezaliman.

Di benua lain tukang pande seperti itu disebut sebagai pendidik ilmu hukum. Mereka difasilitasi oleh negeri dengan berbagai tunjangan dan jaminan hidup. Mereka diharapkan benar-benar bisa konsentrasi mencetak generasi yang tidak hanya jenius, tetapi juga memiliki integritas. Mencetak generasi yang tahan godaan, bermoral dan berwawasan kenegaraan. Mencetak generasi yang tahan banting, tidah mudah menyerah oleh iming-iming keduniaan. Ada baiknya negeri api belajar ke benua lain bagaimana membuat pisau hukum tajam bagian luar kuat bagian dalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *