Ketika Kepercayaan Mulai Hilang, Siapa Sebenarnya yang Kalah

0
Mediamataraman_grebegsuro2026

Festival Nasional Reog Ponorogo adalah panggung kehormatan.

Penulis: Yusuf rohmansyah

Setiap grup datang membawa nama baik daerah, sanggar, institusi, dan orang-orang yang selama berbulan-bulan mengorbankan waktu, tenaga, serta biaya yang tidak sedikit.

Mereka menyewa kendaraan.

Mereka membayar konsumsi.

Mereka menyiapkan kostum, properti, pelatih, hingga kebutuhan teknis lainnya.

Semua dilakukan demi satu tujuan: menampilkan yang terbaik dan bersaing secara terhormat.

Karena itu, kalah dan menang adalah hal biasa.

Yang tidak biasa adalah ketika muncul keraguan terhadap prosesnya.

Yang berbahaya bukanlah siapa yang menjadi juara.

Yang berbahaya adalah ketika peserta mulai bertanya-tanya apakah semua peserta benar-benar diperlakukan sama.

Yang berbahaya adalah ketika publik mulai meragukan independensi penilaian.

Yang berbahaya adalah ketika ruang-ruang diskusi lebih ramai membicarakan dugaan kedekatan, pengaruh, dan kepentingan dibanding kualitas pertunjukan di atas panggung.

Sebab sejak saat itu yang terluka bukan hanya peserta yang kalah.

Yang terluka adalah kepercayaan.

Dan kepercayaan yang rusak jauh lebih sulit diperbaiki daripada sekadar menyusun kembali tata tertib perlombaan.

Festival sebesar FNRP tidak boleh hanya adil.

Karena dalam dunia budaya, persepsi publik adalah bagian dari marwah itu sendiri.

Hari ini mungkin polemik hanya menjadi bahan perdebatan di warung kopi, grup percakapan, dan media sosial.

Namun pertanyaan yang sesungguhnya jauh lebih penting:

Apakah tahun depan peserta masih datang dengan keyakinan penuh bahwa yang menentukan kemenangan adalah kualitas pertunjukan?

Ataukah mereka datang dengan membawa keraguan yang sama?

Jika pertanyaan itu tidak segera dijawab melalui evaluasi dan transparansi, maka sesungguhnya yang kalah bukan juara dua, juara tiga, atau peserta yang tidak masuk nominasi.

Yang kalah adalah kehormatan festival itu sendiri.

Sebab sebuah festival budaya tidak akan runtuh karena kritik.

Sebuah festival budaya akan runtuh ketika kepercayaan para pelaku budayanya perlahan menghilang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *