Promotor Muda Ponorogo Gibran Sugiri Sancoko Lahirkan Petinju Berbakat, Dua Atlet Sabet Perunggu Nasional
PONOROGO, MEDIA MATARAMAN – Keterbatasan fasilitas dan dukungan anggaran tak menyurutkan langkah promotor muda asal Ponorogo, Gibran Sugiri Sancoko, dalam membina atlet tinju muda. Dengan kemampuan seadanya dan mengandalkan dana pribadi, Gibran membuktikan bahwa potensi atlet daerah mampu bersaing di panggung nasional.
Buktinya, dua atlet binaan Pertina Ponorogo yang mewakili Provinsi Jawa Timur berhasil membawa pulang dua medali perunggu dalam Kejuaraan Nasional Piala Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur.
Dua atlet tersebut adalah Bima Sakti Arya Wicaksana Aguty dan Happy Lailatul Nikmah. Keduanya tampil di kategori amatir junior dan berhasil mengharumkan nama Ponorogo sekaligus Jawa Timur.
Bima Sakti, kelahiran Ponorogo, 10 April 2010, turun di kelas 60 kilogram putra. Petinju berusia 16 tahun dengan tinggi badan 167 sentimeter itu menunjukkan potensi sebagai atlet muda yang patut diperhitungkan.
Sementara itu, Happy Lailatul Nikmah, kelahiran Ponorogo, 8 Mei 2009, meraih medali perunggu di kelas 51 kilogram putri. Atlet berusia 17 tahun dengan tinggi badan 160 sentimeter tersebut turut membuktikan bahwa petinju perempuan Ponorogo memiliki kemampuan untuk bersaing di tingkat nasional.
Pembinaan dengan Dana Pribadi
Prestasi dua atlet ini bukan sekadar tambahan medali. Capaian tersebut menjadi gambaran bahwa pembinaan yang serius, konsisten, dan terarah dapat melahirkan atlet berprestasi, meskipun harus berjalan dengan keterbatasan sumber daya.
Gibran Sugiri Sancoko menegaskan keyakinannya bahwa atlet tinju asal Ponorogo memiliki kemampuan untuk bertanding di level nasional, bahkan internasional, apabila mendapatkan pembinaan yang tepat.
“Saya meyakini petinju daerah asal Ponorogo mampu bertanding di kancah nasional, bahkan internasional, jika dibina dengan benar,” ujar Gibran.
Keyakinan itu ia wujudkan melalui pendampingan dan dukungan terhadap atlet. Dengan mengandalkan dana pribadi serta fasilitas yang terbatas, Gibran berupaya membuka jalan bagi petinju muda Ponorogo agar memiliki kesempatan berkembang dan mengukur kemampuan di ajang kompetisi.
Prestasi Atlet, Siapa yang Akan Hadir Memberi Dukungan?
Dua medali perunggu tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa potensi olahraga Ponorogo tidak boleh berhenti pada seremoni penghargaan. Atlet muda membutuhkan pembinaan berkelanjutan, fasilitas latihan yang memadai, pendampingan pelatih, serta dukungan anggaran yang jelas.

Ketika seorang promotor muda bersedia mengeluarkan dana pribadi demi membuka peluang bagi atlet daerah, muncul pertanyaan penting: sejauh mana perhatian pemerintah daerah dan pemangku kepentingan olahraga terhadap masa depan petinju muda Ponorogo?
Prestasi tidak lahir hanya dari bakat. Ada proses panjang, kedisiplinan, pengorbanan, dan biaya yang harus ditanggung. Karena itu, keberhasilan Bima dan Happy semestinya menjadi momentum bagi pemerintah daerah, KONI, dan pihak terkait untuk memperkuat pembinaan atlet, bukan sekadar menikmati hasil ketika medali berhasil diraih.
Bagi Ponorogo, dua medali perunggu ini mungkin baru langkah awal. Namun, dengan pembinaan yang tepat dan dukungan yang konsisten, bukan tidak mungkin kedua atlet tersebut mampu melangkah lebih jauh dan membawa nama daerah ke panggung internasional.