IMG-20210204-WA0024_copy_870x512

Oleh: Rino Desanto W.

Beberapa pekan mendatang negeri api akan punya gawe pemilihan pengampu daerah secara serentak. Pengelompokan warga sudah mulai terasa. Obrolan ujung warung mulai tidak seramai sebelumnya. Dulu pengunjung warung biasa tertawa lepas bersama-sama. Kini terasa beda, beberapa pengunjung ngobrol dengan nada rendah, nyaris berbisik-bisik di sudut warung. Bila sewaktu-waktu datang pengunjung lain yang kebetulan berbeda cara pandang atau beda kepentingan, tiba-tiba suasana menjadi senyap.
Melirik kanan kiri, ngopi di sudut warung tidak lagi memberikan kesenangan dan kegembiraan. Namun demikian, ada juga efek positif dari gawe pemilihan pengampu daerah. Beberapa pos kamling yang selamanya ini sudah lama mati kini mulai dihidupkan kembali. Komunikasi sosial di beberapa sudut kampung mulai dibuka, kesadaran hidup dalam kebersamaan mulai tumbuh kembali. Kami pikir keterbelahan warga hanya akan berlaku beberapa sesaat. Warga tidak mungkin tahan hidup dalam keterbelahan untuk waktu yang lama.
Keterbelahan ini adalah akibat sesaat, sebagai efek samping dari kerja timsus bentukan calon pengampu. Keterbelahan dapat diminimalisir jika timsus yang bekerja mendongkrak jumlah suara mau menghembuskan pendidikan politik kepada warga. Keterbelahan tidak akan terjadi jika masing-masing calon pengampu berjalan bersama bergandeng tangan di hadapan warga. Keterbelahan warga tidak akan terjadi jika masing-masing calon pengampu berangkat dengan niat untuk memajukan dan memperbaiki daerahnya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa masing-masing calon ingin menang. Untuk menang kadang harus melakukan tindakan dengan sembunyi-sembunyi. Apalagi jika yang melatar belakangi usaha untuk menang itu adalah bermacam utang dan gadai. Mulai dari utang fulus hingga utang janji, mulai dari gadai tanah hingga gadai harga diri. Walhasil kemenangan menjadi harga mati, kekalahan berarti mati. Calon pengampu daerah dengan pola pikir seperti itu biasanya tidak mudah menerima kekalahan begitu saja.
Bagi calon pengampu daerah yang anti kalah, tidak rela jika calon pengampu lain memiliki dukungan yang lebih banyak. Calon pengampu anti kalah akan berusaha membelah warga pendukung calon pengampu lain, hingga warga lebih terbelah-belah. Dalam logika sederhana jumlah kelompok warga bisa lebih besar dari jumlah calon pengampu daerah. Semisal ada tiga calon pengampu daerah, logikanya warga hanya akan terbelah menjadi tiga kelompok. Namun, bukan tidak mungkin salah satu kelompok besar akan dipecah menjadi kelompok kecil-kecil.
Begitulah cara timsus anti kalah bekerja, tetapi kami tetap percaya bahwa warga era sekarang tidak mudah dibelah. Jika warga benar-benar terbelah, itu pun bukan untuk selamanya. Warga tentu tidak ingin hidup dalam keterbelahan. Warga tentu lebih memilih hidup nyaman dalam kebersamaan. Negeri api sangat berharap kepada semua calon pengampu daerah untuk bisa menjaga daerahnya masing-masing. Calon pengampu daerah diharapkan sepemikiran dan sadar bahwa menjadi pengampu daerah itu adalah panggilan moral.
Para calon pengampu daerah diharapkan sadar bahwa menjadi pengampu daerah bukanlah segalanya. Menjadi pengampu daerah itu sebuah amanah. Menjadi pengampu daerah bukanlah hidup mati. Kalah dalam percaturan itu hal biasa, sudah semestinya bisa menerima dengan lapang dada, dan dapat menerima segala konsekuensinya. Masalah yang kini sedang dihadapi negeri api adalah sebagian calon pengampu daerah berangkat dengan niat ingin berkuasa dan menguasai. Ego harus menang tidak dapat dibendung dan meracuni percaturan.
Semua orang tahu jika calon lebih dari satu, calon yang lain mesti legowo bila ternyata tidak memperoleh dukungan suara yang memadai. Namun, kenyataan di lapangan amat berbeda, calon pengampu anti kalah tidak mudah menerima kekalahan, kalah berarti kehancuran menanti. Dalam pikiran calon pengampu anti kalah, kekalahan akan membuatnya tersudut, serta hilangnya segala kemudahan. Merasa dibayangi oleh bermacam kesulitan yang muncul akibat ragam bentuk utang yang muncul selama percaturan berlangsung.
Begitulah kondisi negeri api saat ini. Untuk mengantisipasi keterbelahan, kini aparat kampung mulai menjadwalkan kontrol keamanan lingkungan setiap malam. Kontrol keamanan lingkungan dijadwalkan hingga percaturan pemilihan calon pengampu daerah usai. Sosialisasi ke warga juga digalakkan, diharapkan warga senantiasa menjaga kerukunan di wilayahnya. Aparat kampung juga menghimbau warganya agar tidak mudah terhasut oleh isu-isu yang kurang sehat. Segala bentuk pendekatan kepada warga dilakukan demi terciptanya keharmonisan kampung.
Apa yang masih kami pikirkan adalah kemungkinan dilaksanakannya seleksi calon pengampu daerah dari sisi psikologis. Sebuah tes yang diharapkan dapat mengungkap kondisi psikologis calon pengampu daerah, yang diharapkan dapat mengungkap kesiapan calon pengampu bila nantinya kalah dalam percaturan. Ini menjadi penting dikarenakan sebagian calon pengampu dengan ambisi yang tidak terkendali merusak tatanan dan tradisi.
Ini sebuah wacana yang sekiranya dapat dijadikan bahan pemikiran bersama. Semua tentu senang bila pemilihan calon pengampu daerah tidak berakibat terpecahnya warga. Juga tidak berakibat buruk atau membuatnya terpuruk pada calon pengampu. Sementara persyaratan untuk menjadi calon pengampu tetap berjalan sebagaimana mestinya, dan bila mungkin secara periodik dievaluasi. Warga negeri api tentu senang jika setiap kali ada percaturan calon pengampu daerah, tidak ada gegeran, tidak gesekan dan tidak ada keruwetan.
Diharapkan setiap kali ada percaturan calon pengampu daerah, menjadikan warga semakin dewasa dalam berpolotik. Diharapkan setiap warga mampu berpikir positif dan memberikan kontribusi positif terhadap masa depan daerahnya. Demikian juga sebaliknya, setiap calon pengampu diharapkan dapat memberikan kesejukan kepada semua warga, baik yang memberikan dukungan maupun yang berseberangan. Diharapkan setiap calon pengampu dapat memberikan contoh perikehidupan berkedamaian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *