“Meja Makan yang Berubah: Dari Tempat Setia Menjadi Panggung Kepentingan”

0
perdana menteri

Penulis: neo (Penulis Lepas)

Di negeri antah berantah, berdirilah sebuah istana yang dulu terkenal bukan karena kemegahannya, melainkan karena kehangatan penghuninya. Orang-orang menyebutnya “Istana Tanpa Sekat”, tempat di mana tawa lebih sering terdengar daripada perintah, dan kopi lebih sering diseduh daripada intrik.

Suatu hari, seorang kawan lama datang berkunjung. Niatnya sederhana: melepas rindu pada masa ketika istana itu terasa seperti rumah, bukan kantor. Ia rindu suara candaan, rindu obrolan tanpa agenda, rindu masa ketika semua orang tampak setara meski tinggal di bawah atap kekuasaan.

Dulu, ia bisa keluar masuk tanpa banyak tanya. Kadang hanya duduk, menyeruput kopi, lalu pulang dengan hati hangat.
Namun hari itu berbeda.

Istana terasa seperti lukisan yang terlalu lama digantung, diam, kaku, dan kehilangan jiwa. Burung-burung seperti lupa bernyanyi. Tanaman tampak enggan tumbuh. Bahkan angin pun lewat tanpa menyapa.

“Ah, mungkin aku yang datang di waktu yang salah,” gumamnya, mencoba memaklumi.
Ia pun berbalik, berniat pulang. Tapi langkahnya terhenti.
Di ujung lorong, ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada, atau lebih tepatnya, seseorang yang tidak seharusnya berada di sana.

Seorang yang dulu dikenal bukan karena kesetiaannya, melainkan karena kelihaiannya berpindah haluan. Ia berjalan santai, ditemani dua rekannya, menuju ruang makan istana. Bukan dengan ragu, tapi dengan percaya diri, seolah-olah tempat itu memang miliknya.

Kawan itu mengerutkan dahi.
“Ini istana… atau ruang tunggu kesempatan kedua?” batinnya.
Ia mempercepat langkah menuju penjaga.
“Sejak kapan mereka bisa masuk sampai dalam?” tanyanya.
Penjaga itu menjawab datar, seperti membaca pengumuman yang sudah dihafal,
“Perintah dari perdana menteri. Mereka sekarang… ngantor di sini.”
“Ngantor?”

Kata itu terdengar lucu, hampir seperti lelucon. Tapi tidak ada yang tertawa.
Ia melirik kembali ke arah ruang makan. Pintu sedikit terbuka. Dari sana tampak meja panjang dengan hidangan yang tak pernah disajikan untuk sembarang orang. Di sanalah mereka duduk.
Ya, duduk.
Bukan di kursi tamu.
Bukan di pinggir.
Tapi di tengah.
Seolah-olah mereka bagian dari inti.

Ia tersenyum tipis, senyum yang biasanya muncul ketika seseorang mulai paham bahwa kenyataan tidak lagi mengikuti logika.

“Menarik,” katanya pelan.
“Dulu pengkhianatan dianggap noda. Sekarang… tampaknya jadi tiket masuk.”

Ia teringat masa lalu, ketika meja makan itu hanya untuk mereka yang dianggap “keluarga.” Bukan karena hubungan darah, tapi karena kesetiaan yang sudah teruji. Kini, definisi keluarga tampaknya lebih fleksibel, atau mungkin lebih… oportunistik.

Ia kembali menatap penjaga.
“Jadi sekarang siapa yang di luar, dan siapa yang di dalam?”
Penjaga itu tidak menjawab. Mungkin tidak tahu. Atau mungkin sudah tidak penting lagi.
Kawan itu akhirnya melangkah pergi. Tapi kali ini, ia tidak merasa kehilangan tempat. Ia justru merasa telah menemukan sesuatu, sebuah pemahaman sederhana:

Bahwa istana itu tidak berubah menjadi dingin begitu saja. Ia hanya mengganti sumber kehangatannya.
Dulu, kehangatan datang dari kebersamaan.
Sekarang, tampaknya datang dari kepentingan.

Dan di negeri itu, sebuah pepatah baru diam-diam berlaku:

“Jika kau ingin masuk istana, jangan terlalu setia. Cukup pandai memilih waktu untuk berbalik arah.”

Ia tersenyum lagi, kali ini lebih ringan.
“Ah,” gumamnya,

“ternyata ini bukan lagi Istana Tanpa Sekat… ini sudah jadi Istana Tanpa Ingatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *