PENYAMUN MENYAMAR SEBAGAI TOKOH SUCI DI KOTA TEPUNG PATI

0
692856942_1286572820248558_7817967390800928190_n

Alkisah di sebuah kota yang warganya sebagian besar hidup bertani, membuat dan berjualan tepung pati. Banyak warga berprofesi sebagai petani penghasil umbi-umbian yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan tepung pati. Sedang sebagian warga lainnya berprofesi sebagai penjual tepung pati yang sudah jadi. Tepung yang dihasilkan terkenal dengan tekstur lembut dan putih. Kehidupan warga yang setiap harinya bersentuhan dengan tepung yang lembut dan putih, menjadikan warga terdorong menjadi orang berhati lembut dan putih seperti tepung pati.
Tidak mengherankan jika banyak warga termasuk tokoh-tokoh di kota ini yang selanjutnya kami sebut sebagai kota tepung pati suka mengenakan baju berwarna putih sebagai lambang kesucian. Namun, entah karena apa tiba-tiba beberapa hari yang lalu muncul berita yang kontradiktif dengan nama kota tepung pati sebagai lambang kesucian. Parahnya perilaku menyimpang yang menabrak norma susila itu justru dilakukan oleh tokoh yang menamakan dirinya sebagai tokoh suci. Tentu ini sulit untuk diterima akal sehat.

Bagaimana bisa seorang tokoh suci dan yang seharusnya mendidik dan memberikan contoh perilaku yang sesuai dengan tuntunan suci justru menodai kesucian. Mulai dari menodai keyakinan yang dianut, menodai kepercayaan yang diberikan oleh warga yang menitipkan bunga suci untuk dididik dan dibekali dengan roh suci, hingga menodai nama kota tepung pati yang warganya selalu bersikap lembut dan penuh simpati. Apakah ini yang disebut pagar makan tanaman. Apakah ini yang disebut telah terjadi kerusakan moral dan salah tatanan.

Rino Desanto W.

Rupanya nafsu telah mengalahkan segalanya, membuat tokoh suci lupa segalanya. Tokoh suci tidak lagi suci, lebih tepatnya telah dengan sadar mengotori diri dan lingkungannya. Tokoh sok suci ini sekarang memperoleh gelar baru yaitu sebagai penjahat pemetik bunga. Sungguh tokoh yang tidak pantas dilirik oleh warga. Semua ajaran kebaikan, kelembutan, dan kesucian dari tokoh sok gugur. Sudah banyak bunga suci dipetik dan kini semuanya layu. Warga pada geram melihat tokoh sok suci, yang telah menyebut dirinya sebagai tokoh suci, tetapi malah menodai kesucian.
Semua berawal dari nafsu yang tidak terkendali. Walau setiap harinya mengenakan buju putih dan penutup kepala putih, ternyata tidak menjamin bahwa sikap perilakunya sesuai dengan warna kain yang dikenakan. Ternyata bertolak belakang, baju putih sengaja dikenakan untuk menutupi hati yang busuk, sementara penutup kepala putih dipakai untuk menutupi pikiran kotor. Manusia berhati hitam, sengaja masuk lingkungan suci untuk mencuri bunga suci. Diam-diam penjahat pemetik bunga mencari keuntungan demi memenuhi hasrat yang tidak terbendung.

Satu per satu bunga dipetik tanpa menghiraukan apakah nantinya bunga akan layu. Sama sekali tidak menghiraukan bagaimana masa depan bunga suci. Kepedihan dan air mata bunga suci tidak membuat tokoh sok suci tersentuh. Tokoh sok suci menutup telinga atas pergunjingan kana kiri. Sungguh tokoh sok suci yang berhati gelap. Lebih tepat jika disebut sebagai sang penyamun. Dosa yang tidak terampuni. Buka hanya karena memetik lima puluh bunga dengan cara yang tidak bisa dibenarkan oleh norma, tetapi juga karena sebagai tokoh telah menyimpang dari kesucian.

Sang penyamun memang memiliki banyak harta. Tidak heran jika sang penyamun berhasil menutup banyak mulut untuk waktu yang lama. Namun, sepandai-pandai menyembunyikan bangkai, bau busuk akan menyeruak juga. Setelah sekian lama menyimpan kebusukan akhirnya sepak terjang sang penyamun terkuak dan tersebar di seluruh pelosok negeri. Kini sang penyamun harus mempertanggungjawabkan ulah tingkahnya karena telah membuat layu banyak bunga suci. Kisah ini mengajarkan betapa yang tampak di luar tidak selalu seperti yang tergambar di dalam.
Tidak selalu yang putih itu putih. Kadang yang hitam ditaburi putih, hati hitam ditutup dengan kain putih. Penyamun menyamar sebagai tokoh suci, penyamun bermain-main dengan etika moral, budi pekerti, kelembutan dan kesucian. Sungguh disayangkan, selalu ada sosok yang memanfaatkan kesempitan dan mengaburkan kebusukan. Anehnya masih ada juga segelintir orang yang bermaksud membela sang penyamun. Ternyata mereka ingin kecipratan harta sang penyamun. Mungkinkah sang penyamun benar-benar akan mendapatakan balasan yang setimpal.

Dari beberapa kasus serupa seringkali bunga suci berada pada posisi yang lemah. Seringkali sang penyamun berada di atas angin, bahkan membalikkan keadaan dengan tuduhan pencemaran nama baik. Apakah akan ada efek jera untuk penyamun yang lain, yang mungkin kini sedang bermain-main dengan bunga suci di tempat lain. Warga kota tepung pati sangat ingin sesegera mungkin bisa mendepak penyamun yang telah mencederai banyak bunga suci, yang telah mengotori nama kota tepung pati.

Melihat sedemikian beraninya sang penyamun bermain api, bukan tidak mungkin di belakang mereka ada penyamun lain yang siap membackup. Bila ini benar-benar terjadi akan semakin sulit bagi bunga suci menuntut keadilan. Besar kemungkinan sesama penyamun akan berusaha menjalin kekuatan untuk menyerang balik. Saat inilah hukum negeri dipertaruhkan. Apakah akan menghadang penyamun, menggulung barisan penyamun ataukah sebaliknya. Warga kota tepung pati masih menunggu hasilnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *