ratu limbuk

Penulis: Rino Desanto W.

Limbuk kini sudah sah menjadi ratu. Sebagai ratu yang berkuasa di atas bumi sontoloyo, limbuk menguasai jalur distribusi niaga mulai dari sembako hingga kayu jati. Distribusi kayu jati sebagai bahan dasar pembuatan mebel hampir sembilan puluh persen berada di tangan limbuk. Limbuk tahu benar kayu-kayu langka seperti kayu jati yang sudah berumur lebih dari seratus tahun jika diubah menjadi mebel akan memberikan nilai tambah yang tinggi. Tidak heran jika limbuk dan beberapa bawahannya langsung turun tangan sendiri, mengubah kayu jati langka menjadi produk unggulan.

Salah satu produk unggulan perusahaan limbuk adalah kursi ukir berwarna hitam galih. Kursi ini rumornya dapat mendatangkan banyak rejeki. Makin mahal harga kursi, makin besar pula rejeki yang bisa ditarik. Banyak warga kaya turut bersaing untuk mendapatkan kursi termahal. Mereka beranggapan bahwa kursi yang mereka rebutkan adalah sebuah investasi. Keuntungan akan kembali hanya cukup dengan cara menduduki kursi salama beberapa tahun ke depan. Tidak heran jika harga satu buah kursi bisa mencapai ratusan juta.

Sebagian besar warga yang memperebutkan kursi sesungguhnya tidak peduli apakah kursinya berlapis emas ataukah berlapis perak. Termasuk apakah harga purna jual rendah atau tinggi. Mereka hanya berpikir berapa duit yang akan mengalir ke kocek setiap tahunnya. Mereka hanya menghitung untung atau rugi. Selama rencana investasi dianggap menguntungkan, berapa pun dana yang harus dikeluarkan tidak menjadi masalah. Itulah kenapa kursi yang dijual limbuk begitu menarik minat warga, utamanya warga yang berduit.

Mereka yang berminat membeli kursi tidak berpikir apakah layak menduduki kursi. Mereka yang turut perpartisipasi dalam lelang kursi adalah warga yang berduit. Bahkan warga dari luar bumi sontoloyo yang berduit juga ikut lelang. Walhasil warga luar yang memiliki lebih banyak duit menjadi pemenang lelang kursi. Sementara warga lokal yang ikut lelang banyak yang tidak bisa menerima kekalahan. Warga lokal berdalih bahwa mereka lebih berhak atas produk bumi sontoloyo. Kursi yang diproduksi di bumi sontoloyo tidak baik dijual kepada warga luar.

Pola pikir ratu dengan pola pikir warga dalam hal jual beli kursi ternyata berbeda. Ratu limbuk menginginkan keuntungan setinggi-tingginya untuk mengembalikan biaya perjalanan menuju ratu. Sementara warga lokal yang telah lama mengabdi dan memberikan banyak kontrobusi pada bumi sontoloyo merasa lebih pantas menerima imbal balik. Jelas ini dua pola pikir yang sulit dipertemukan. Petimbangan warga lokal tidak salah, pertimbangan limbuk juga tidak sepenuhnya salah. Satu hal yang tidak dapat disangkal saat ini adalah limbuk memiliki kuasa lebih dari warga biasa.

Rino Desanto W.

Dengan kekuasaannya sebagai ratu, limbuk bisa dengan mudah memenangkan permainan. Kini kursi termahal sudah dilempar ke pasar dan sudah ada pembeli yang siap membayar mahal. Sedangkan kursi-kursi yang lebih murah ditawarkan ke warga lokal, tetapi banyak warga yang kurang tertarik. Kursi murah dianggap tidak banyak mendatangkan rejeki. Sudah barang tentu, makin tinggi nilai suatu barang makin banyak yang mengicar. Saat ini warga lokal tetap memperhatikan dari kejauhan sambil menunggu apa yang akan terjadi esok hari.

Bukan tidak mungkin suatu hari nanti kursi termahal akan menarik perhatian pencuri. Bukan tidak mungkin akan ada yang merebutnya dengan paksa atau merebutnya dengan segala cara. Bagi yang sakit hati yang tidak memperoleh kursi, bisa gelap mata dan menyalakan api. Tatkala api dilempar keluar dan diterbangkan angin, kabar angin akan memanas. Warga lokal yang kecewa akan memanfaatkan kesempatan dengan menghembuskan angin yang lebih besar. Walhasil api kian membara, kegoncangan bumi sontoloyo tidak bisa dihindari.

Sesungguhnya siapa pun yang membeli kursi itu tidaklah masalah. Asalkan mereka yang menduduki kursi bisa memberikan kemaslahatan bagi warga bumi sontoloyo. Apa yang diragukan oleh warga lokal adalah apakah warga dari luar akan memberikan kontribusi nyata untuk semua warga. Mana mungkin warga luar berani membayar mahal jika tidak ada peluang mendatangkan keuntungan yang besar. Tentu mereka lebih memikirkan keuntungan pribadi dari pada kepentingan semua warga. Itulah yang kini menyulut perang dingin antara warga luar dengan warga lokal.

Ratu limbuk kini menghadapi dilema atas keputusannya menjual kursi pada warga luar. Kebijakan dan keputusan yang diambil limbuk kini menjadi bumerang, dan tidak mungkin dibatalkan. Awalnya ratu limbuk ingin segera melunasi utang dan menutup pengeluaran tatkala menuju istana. Tidak tahunya kebijakannya menuai kontroversi. Warga jadi kurang percaya pada sikap limbuk. Warga menganggap ratu hanya memikirkan keuntungan jangka pendek dan tidak mempertimbangan perasaan warga lokal. Terutama yang telah banyak berkorban untuk bumi sontoloyo.

Mengapa kursi tetap dijual dengan harga sangat mahal. Apakah limbuk tidak takut jika dikonfrontir pengawas perdagangan karena menjual kursi melebihi batas harga tertinggi. Apakah benar limbuk sudah menguasi semua jalur penjualan kursi termasuk di dalamnya perkara penetapan harga tertinggi. Jika tidak, limbuk mesti siap menghadapi segala konsekuensi. Jika keputusan limbuk dalam menjual kursi dianggap sebagai pelanggaran, mau tidak mau limbuk harus menghadapi konsekuensi hukum. Pengawas perdagangan tidak akan berhenti mengawasi jual beli kursi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *