SMKN 1 jenangan Harumkan Nama Bumi Reyog, Sabet 3 Medali di Kejuaraan Taekwondo Piala Gubernur Jawa Timur.
Media Mataraman — PONOROGO, Bumi Reyog kembali membuktikan bahwa Ponorogo tidak pernah kehabisan talenta muda di dunia olahraga.
Kali ini, nama SMKN 1 Jenangan atau yang lebih dikenal STMJ Ponorogo, kembali berkibar dalam ajang kejuaraan Taekwondo Piala Gubernur Jawa Timur. Tiga siswa STMJ berhasil membawa pulang tiga medali sekaligus: emas, perak dan perunggu.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa potensi atlet pelajar Ponorogo cukup besar jika diberikan ruang, kesempatan dan pembinaan yang berkelanjutan.
Medali emas diraih Sa’dan Ahmad Sambega Kusuma, pada kategori U-55 Junior Putra.
Sementara Amelia Setyaningrum berhasil mempersembahkan medali perak pada kategori Kyorugi Senior Kelas F-46.
Sedangkan Dahayuna Aileen Syarohtussita melengkapi prestasi STMJ dengan raihan medali perunggu pada kategori Junior Over 68 Kg.
Tiga medali dari tiga atlet tersebut bukan sekadar angka di papan prestasi. Di baliknya ada latihan, disiplin, perjuangan, biaya, serta keberanian bertanding membawa nama sekolah dan daerah.
Gudangnya Atlet, Jangan Hanya Jadi Gudang Prestasi
Ponorogo selama ini dikenal sebagai daerah yang banyak melahirkan talenta olahraga. Namun ironisnya, tidak semua prestasi tersebut berbanding lurus dengan perhatian dan pembinaan yang diterima para atlet pelajar.
Tidak sedikit atlet muda yang harus berjuang dengan keterbatasan fasilitas dan pembiayaan.
Bahkan dalam sejumlah kejuaraan, sekolah masih harus merogoh kocek sendiri untuk memberangkatkan dan mendampingi para atlet menuju pertandingan, termasuk ketika harus mengikuti kejuaraan di tingkat nasional.
Padahal ketika mereka bertanding, yang mereka bawa bukan hanya nama sekolah.
Mereka membawa nama Ponorogo.
Ketika bendera kemenangan dikibarkan dan medali dikalungkan, prestasi tersebut menjadi kebanggaan daerah.
Tetapi setelah pulang, pertanyaannya kemudian muncul:
Siapa yang membina mereka? Siapa yang mendampingi perjalanan mereka? Dan siapa yang memastikan bakat mereka tidak berhenti setelah lulus sekolah?
KONI Jangan Hanya Menunggu
Di sinilah peran pemerintah daerah melalui KONI semestinya lebih proaktif.
KONI tidak harus menunggu atlet berprestasi datang meminta bantuan.
Justru sebaliknya, sekolah-sekolah yang memiliki atlet potensial semestinya dipetakan. Atlet berprestasi perlu mendapatkan pembinaan berkelanjutan, mulai dari pelatih, fasilitas latihan, keikutsertaan dalam kompetisi hingga dukungan pembiayaan.
Sebab membangun atlet tidak bisa dilakukan secara instan.
Hari ini mereka mendapatkan medali tingkat Jawa Timur.
Besok, bukan tidak mungkin mereka menjadi juara nasional.
Dan bukan mustahil pula suatu saat ada anak Ponorogo yang berdiri di podium internasional dengan membawa nama Indonesia.
Tetapi semua itu membutuhkan proses.
Prestasi tanpa pembinaan berkelanjutan hanya akan melahirkan juara sesaat.
Sebaliknya, jika pemerintah daerah, KONI, sekolah, pelatih dan masyarakat duduk bersama membangun sistem pembinaan yang serius, Ponorogo berpeluang memiliki lebih banyak atlet yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.
Tiga Medali, Satu Pesan
Tiga medali yang dibawa pulang atlet STMJ Ponorogo seharusnya menjadi alarm sekaligus motivasi.
Emas, perak dan perunggu itu bukan hanya milik tiga siswa. Itu adalah pesan bahwa Ponorogo memiliki talenta olahraga yang layak diperhatikan.
Jangan sampai pemerintah baru datang ketika atlet sudah menjadi juara.
Justru saat mereka masih berlatih, masih berjuang, masih bersekolah dan masih membutuhkan dukungan, di situlah negara dan pemerintah daerah seharusnya hadir.
Karena setiap medali yang diraih anak-anak Ponorogo hari ini, bisa menjadi awal lahirnya prestasi yang jauh lebih besar di masa depan.
STMJ sudah membuktikan. Kini tinggal menunggu: seberapa serius Ponorogo menjaga dan mengembangkan para juaranya? Had.