Dua Emas Piala Panglima TNI, Pertina Ponorogo Menampar Perhatian Pemerintah Daerah

0
pertina 1

Media Mataraman — Ponorogo, Arena tinju kembali menjadi panggung pembuktian bahwa Ponorogo tidak pernah kehabisan talenta. Di tengah berbagai keterbatasan pembinaan olahraga, Pertina Ponorogo di bawah promotor muda Gibran, putra mantan Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko, justru mampu membawa nama daerah berkibar di ajang Piala Panglima TNI.

Dua medali emas berhasil dipersembahkan atlet Ponorogo.

Bima Sakti Arya Wicaksana Aguty meraih medali emas pada kategori Amatir Youth (Pemuda) 60 kilogram putra. Sementara Happy Lailatul Nikmah juga sukses merebut emas pada kategori Amatir Youth (Pemuda) 51 kilogram putri.

Prestasi tersebut tentu patut diapresiasi. Sebab, di balik dua keping emas itu terdapat latihan keras, disiplin, pengorbanan atlet, dukungan keluarga, serta kerja pembina dan pengurus Pertina.

Namun, keberhasilan tersebut juga menyisakan sebuah pertanyaan yang lebih besar: ketika atlet Ponorogo mampu mengharumkan nama daerah di tingkat nasional, di mana perhatian pemerintah daerah terhadap mereka?

Pertanyaan ini bukan hanya milik Pertina.

Keluhan mengenai pembinaan atlet juga berpotensi menyentuh berbagai cabang olahraga lain, mulai dari pencak silat, taekwondo, bulu tangkis, hingga cabang olahraga lainnya yang sebenarnya memiliki banyak bibit potensial.

Ironisnya, atlet yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun berlatih justru dapat memilih membela daerah lain ketika merasa fasilitas, pembinaan, maupun dukungan yang tersedia di daerah asal belum mampu memenuhi kebutuhan mereka.

Kalau atlet berprestasi akhirnya memilih hijrah, yang hilang bukan sekadar seorang atlet. Yang ikut pergi adalah potensi prestasi dan kebanggaan daerah.

Di sinilah peran KONI Ponorogo menjadi penting. Sebagai induk organisasi olahraga, KONI diharapkan tidak sekadar menjadi tempat administrasi organisasi, tetapi benar-benar hadir sebagai rumah bagi para atlet dan cabang olahraga.

Kebutuhan atlet bukan hanya soal bonus ketika menang. Mereka membutuhkan program pembinaan yang jelas, fasilitas latihan yang layak, kompetisi berkelanjutan, dukungan peralatan, pendampingan pelatih, serta kepastian bahwa perjuangan mereka mendapat perhatian pemerintah daerah.

Prestasi Bima Sakti dan Happy Lailatul seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak.

Jangan sampai pemerintah baru sibuk mengangkat trofi ketika atlet sudah menjadi juara, tetapi sepi ketika mereka sedang berjuang mencapai podium.

Peran promotor muda Gibran dalam membawa Pertina Ponorogo tampil dan berprestasi di ajang Piala Panglima TNI juga menjadi catatan tersendiri. Terlepas dari latar belakangnya sebagai putra mantan Bupati Sugiri Sancoko, yang lebih penting adalah bagaimana energi anak muda tersebut dapat menjadi bagian dari kebangkitan olahraga Ponorogo.

Kini bola berada di tangan para pemangku kebijakan olahraga daerah.

Dua emas Piala Panglima TNI sudah berbicara. Tinggal apakah pemerintah dan KONI Ponorogo mau mendengar suara dari atas ring tersebut.

Sebab, membangun prestasi olahraga bukan pekerjaan satu malam. Dan mempertahankan atlet agar tetap membawa nama Ponorogo membutuhkan keberpihakan yang nyata, bukan sekadar tepuk tangan setelah kemenangan.had

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *