Kritik Bukan Permusuhan, Tapi Bentuk Kepedulian
Apa yang terjadi belakangan ini bukan sekadar janggal, ia mulai terasa mengkhawatirkan. Ketika kritik disampaikan sebagai bagian dari kontrol sosial dalam sistem demokrasi, respons yang muncul justru cenderung defensif, bahkan menjurus kontraproduktif. Ruang dialog yang semestinya dibuka, malah tergantikan oleh upaya membangun narasi tandingan, seolah kritik adalah ancaman yang harus dilawan, bukan didengar.
Lebih jauh, pendekatan yang diambil tidak lagi mencerminkan upaya meredam, melainkan justru memperuncing keadaan. Pelibatan pihak lain termasuk media untuk “mengimbangi” bahkan menyerang balik kritik, memunculkan pertanyaan serius di ruang publik: ada apa sebenarnya yang sedang ditutupi?
Seorang kepala daerah, apalagi sekelas bupati, bukan sekadar pejabat administratif. Ia adalah simbol pengayom, figur yang seharusnya hadir dengan keteduhan, bukan dengan sikap reaktif. Dalam relasi antara pemimpin dan masyarakat, kritik adalah hal wajar bahkan sehat. Ia bukan serangan, melainkan bentuk kepedulian yang menuntut respons bijak, bukan perlawanan emosional.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kritik diperlakukan seperti gangguan, bahkan dianggap sebagai ancaman yang harus dilokalisasi. Ini bukan hanya keliru, tetapi berbahaya bagi iklim demokrasi lokal. Sebab, ketika kritik mulai dibungkam baik secara langsung maupun melalui tekanan narasi maka yang tumbuh adalah ketakutan, bukan partisipasi.
Situasi semakin menarik ketika peta relasi lama ikut bergeser. Mereka yang dahulu berada di barisan perjuangan kini perlahan tersisih, sementara pihak yang sebelumnya berseberangan justru mendapatkan tempat. Pergeseran ini tentu bukan sekadar dinamika biasa. Publik berhak mempertanyakan: apakah ini soal strategi, atau justru tanda melemahnya komitmen terhadap loyalitas dan konsistensi?
Yang lebih memprihatinkan, media yang seharusnya menjadi pilar objektivitas justru terindikasi diseret dalam pusaran konflik. Ketika wartawan dihadapkan satu sama lain, atau dijadikan alat untuk membangun opini tandingan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya independensi pers, tetapi juga kepercayaan publik secara luas.
Perlu ditegaskan: kritik bukan kebencian. Kritik adalah alarm. Ia hadir untuk mengingatkan, meluruskan, dan menjaga agar arah kebijakan tidak melenceng. Tetapi ketika alarm itu dimatikan, atau dianggap sebagai gangguan, maka sesungguhnya yang sedang terjadi adalah pembungkaman terhadap kepedulian.
Masyarakat tidak menuntut hal yang muluk. Mereka hanya berharap pada satu hal sederhana: keterbukaan, kedewasaan, dan kemauan untuk mendengar. Perbedaan pandangan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipertemukan.
Sebab pada akhirnya, kekuatan seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa keras ia membalas kritik, tetapi dari seberapa luas ia mampu merangkul perbedaan.
Penulis: Pimpinan Media Mataraman dan Kaban DPC BAPAN Ponorogo